OLEH-OLEH KHAS SLEMAN



Melirik Oleh-oleh Lurik dari Sleman Yogyakarta

Oleh : Admin / 05-12-2018

Dibaca 386 Kali

Bosan dengan oleh-oleh batik khas Yogyakarta? Mungkin sesekali belilah kain lurik. Jenis kain yang ditenun secara manual ini indah untuk dibuat berbagai busana. Tak hanya model surjan seperti yang digunakan para abdi dalem keraton. Tapi bisa menjadi blus, celana pendek atau kulot. Asyiknya, bila membeli lurik di tempat pembuatannya, seperti di Dusun Sangubanyu, Desa Sumberrahayu, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman. Dari pusat Yogyakarta sekitar 15 kilometer,

Saya temukan lokasi pembuatan lurik ini yang dikelilingi persawahan. Di bagian depan ada papan yang sudah terpasang bertahun-tahun, Industri Tenun Sari Puspa. Suasananya cukup sepi.

Masuk ke bagian dalam maka gulungan lurik warna-warni pun terlihat di berbagai sisi. Ada juga dalam lemari kaca dalam lipatan. Di sisi kiri terlihat ruangan untuk menenun. Terlihat beberapa Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Cukup sepi hanya ada empat ibu yang berkreasi. Ada yang menenun lurik panjang, ada pula yang membuat stagen, dan dua ibu yang tengah membikin kain lap dan kain pel.

“Lagi musim tanam padi, jadi sebagian pada pergi ke sawah,” ujar Lusi, yang kini melanjutkan usaha lurik ayahnya. Musim panen dan musim tanam padi biasanya memang sepi dari penenun. Karena menenun menjadi salah satu pilihan pekerjaan kala tak ada aktivitas di sawah.

Variasi corak lurik, tergantung dari selera pasar. Kebetulan memang akhir-akhir ini, orang senang dengan warna-warna segar. Jadilah, lurik yang dibuatnya terlihat dalam warna-warna cerah, seperti merah dalam berbagai gradasi warna. Meski warna-warna gelap tetap dimunculkan seperti cokelat dan biru tua. Lurik dari Sari Puspa juga pernah dipesan ke mancanegara seperti Jepang dan Australia. Harga lurik dengan tergantung lebarnya, ada yang lebar 1,15 meter, ada juga 70 sentimeter. Harganya mulai Rp 35 ribu.

Pemesanan juga muncul dari dinas-dinas yang ada di DI Yogyakarta untuk pembuatan seragam dinas. Meski kini jumlah pengrajinnya terus menurun, namun Lusi berencana tetap mempertahankan usaha ayahnya yang telah dimulai sejak 1965 tersebut.